Senin, 19 November 2018 Registrasi NewsLetter
User ID:     Password:  
MENU
 
 
SIAPKAN ARMADA SEDINI MUNGKIN ANTISIPASI KERUGIAN
 
26 Juli 2012


(Jakarta – haltebus.com)
Musim angkutan lebaran sudah menjadi rutinitas di Indonesia. Sejak 30 tahun lalu, penduduk perkotaan di negeri ini berpergian mengunjungi sanak keluarganya di kampung halaman. Operator angkutan umum, tak terkecuali pengusaha bus menyambut perhelatan tahunan itu dengan berbagai persiapan. “Biasanya kami di minggu pertama puasa sudah memulai cek rutin bus-bus kami,” ujar Candra pemilik PO Zentrum saat dihubungi haltebus.com melalui telepon, Selasa (24/7/12)


Ritual yang dilakukan PO. Zentrum sebenarnya biasa dilakukan di hari-hari normal. Namun, menurut Candra, untuk angkutan lebaran pengecekan sebelum memasuki masa sibuk perjalanan bus wajib dilakukan. Alasan yang paling sederhana, agar bus tidak mogok di jalan sehingga semua armada yang diperlukan untuk angkutan lebaran bisa beroperasi optimal.

Perusahaan bus yang berbasis di Purwodadi ini armada terbanyaknya melayani jasa penyewaan bus pariwisata. Ada juga 12 unit bus yang melayani trayek reguler Purwodadi-Jakarta dari sekitar 50 unit bus yang dimiliki. Bus wisata kerap digunakan pula untuk mengangkut pemudik dalam acara-acara mudik bersama. Candra mengaku berdekatannya waktu libur sekolah dengan libur lebaran, otomatis hanya menyisakan dua minggu persiapan. “Kenyamanan penumpang harus diutamakan,” kata Candra lagi.

Sementara itu, persiapan yang sama juga dilakukan oleh PO. Gunung Harta. Bahkan persiapan dilakukan dua bulan sebelum angkutan lebaran dimulai. Menurut Direktur PO. Gunung Harta, I Gede Yoyok Santoso, ada dua kegiatan persiapan yang selalu dilakukan manajemennya. Pertama, memastikan stok suku cadang yang dibutuhkan tersedia di gudang mereka. Kedua, perawatan kendaraan menyeluruh. “Kami stok suku cadang seperti oli, filter oli, ban, kanvas rem, kanvas kopling dan yang bersifat fast moving lainnya,” kata dia.

Dengan dua divisi usaha, yakni di kantor pusat di Tabanan, Bali dan di Malang, Jawa Timur, PO. Gunung Harta juga merasa perlu membagi tahapan perawatan untuk 100 unit armadanya. Di bulan pertama 50 unit, dan 50 lainnya di bulan kedua menjelang angkutan lebaran dimulai. Perawatan ini utamanya mencakup perawatan mesin dan sistem pengereman, untuk memastikan penumpang aman di jalan.

PO. Gunung Harta memiliki trayek yang beragam, dan terbentang mulai Jakarta-Malang hingga Depansar. Trayek yang dilayani diantaranya Jakarta-Malang, Jakarta-Ponorogo, Kediri-Denpasar, Denpasar-Surabaya, Denpasar-Lumajang dan trayek lokal Bali yakni Denpasar-Gilimanuk.

Yoyok mengaku, pihaknya memiliki motto : Tepat waktu. “Untuk selama angkutan lebaran diusahakan tepat waktu,” katanya lagi.

Sementara itu persiapan juga dilakukan operator bus asal Sumatera. Manajer Operasional PO. Gumarang Jaya, Julianto mengaku, pihaknya perlu mempersiapkan ‘kesehatan’ armadanya secara khusus. Tak ada toleransi baginya dalam hal pemeriksaan menyeluruh terhadap kesiapan operasional bus-busnya. “Kami usahakan semua unit yang beroperasi benar-benar siap. Kami mewaspadai kemungkinan hambatan operasional di jalan,” ujarnya.

Operator bus yang berbasis di Lampung ini memiliki rentang trayek yang tak kalah panjangnya dengan PO. Gunung Harta. Terbentang mulai Padang-Bukittinggi-Jambi-Jakarta hingga Pati dan Solo. Selain PO. Gumarang Jaya ada pula PO. Lampung Jaya yang masih dalam satu manajemen yang sama. Rentang areal yang panjang ini membuat Julianto harus rajin-rajin mewanti-wanti kru-kru busnya.

Menurut Julianto, selama musim angkutan mudik potensi gangguan di jalan cukup banyak. Tidak hanya masalah yang bisa sewaktu-waktu pada busnya, yang lebih mengkhawatirkan adalah saat volume kendaraan sangat tinggi di puncak arus mudik dan balik. “Kepada pengemudi kami selalu mengingatkan untuk mewaspadai kendaraan roda dua,” ujarnya serius.

Lain masalah Julianto, lain pula yang dihadapi oleh PO. Bejeu. Bus yang memiliki trayek utama Jakarta-Jepara ini mengaku kerap mengalami kendala operasional di jalan dalam beberapa bulan terakhir. Masalahnya bukan terletak pada kondisi fisik bus, setidaknya bukan akibat ketidaksiapan opersional bus.

Penanggungjawab operasional PO. Bejeu, M. Yusuf Helmi menyebut armadanya menjadi korban pelemparan orang-orang tak bertanggungjawab. Dia mengaku heran mengapa busnya dilempari orang. “Daerah rawan pelemparan sepanjang Batang (Jateng) hingga Pamanukan (Jabar). Bahkan ada satu bus yang pernah dilempari dua kali dalam satu perjalanan, di Indramayu dan Pekalongan,” kata dia.


Persiapan operator bus yang demikian kompleks memang tak bisa dilakukan dalam waktu satu-dua minggu. Jika pun secara internal mereka telah menyiapkan armada dengan maksimal, masih ada kendala dan hambatan di jalan yang selalu menghantui. Tingginya volume kendaraan dan tangan-tangan jahil segelintir orang, belum lagi kondisi fisik dan psikologis kru bus dalam menghadapi saat-saat puncak arus mudik adalah kendala yang pasti dihadapi. “Prioritas kami keamanan di jalan dan keselamatan penumpang,” kata Julianto.

Musim mudik di mata seluruh orang yang terlibat dalam jasa transportasi bus adalah kesempatan untuk mendapat pemasukan. Tanpa persiapan yang matang, peluang itu bisa hilang dalam sekejap, bahkan bisa menimbulkan kerugian. Tentu saja tak ada pengusaha yang mau merugi. (naskah : mai/foto: mai/dok haltebus.com)
 
 

Home   |   Tentang Kami   |   Halte Berita    |   Halte Manca    |   Sudut Halte    |   Profil    |   Halte Advertorial    |   Halte Wisata    |   Hubungi Kami   |   Registrasi Newsletter
haltebus.com © Copyright 2011 - 2013