(Jakarta – haltebus.com) Januari 2015 ini PT. Transjakarta akan memulai operasionalnya sebagai pengganti Badan Layanan Umum Transjakarta. Sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), beragam strategi telah disiapkan, termasuk target melepaskan operasional bus-bus Transjakarta dari dana subsidi Pemerintah DKI Jakarta. “Meski telah ditetapkan target bebas subsidi pada 2019, tapi kami tidak akan menaikkan tarif tiket Transjakarta,” kata Kosasih, Senin (5/1) seperti yang dikutip dari beritasatu.com.

Seperti kebanyakan operator transportasi, PT. Transjakarta akan fokus pada biaya operasional sebagai beban terbesar pengeluaran. Caranya, mereka mengoptimalkan aset yang dimiliki untuk memperoleh pendapatan di luar tiket. Setiap ruang yang tersedia pada aset PT. Transjakarta dimanfaatkan sebagai ruang iklan.

Sementara itu, pada 2017 Kosasih menargetkan bus-bus Transjakarta bisa mengangkut satu juta penumpang setiap harinya atau naik lebih dari tiga kali lipat. Saat ini dengan 12 Koridor dengan 26 rute layanan, Transjakarta mengangkut 300 ribu penumpang per hari. Panjang koridor yang dilayani adalah 210 kilometer.

Meski dalam empat tahun mendatang masih dalam tahap peralihan menuju entitas bisnis mandiri, Kosasih yakin bisa mencapai target menghapus subsidi Pemprov DKI Jakarta. Langkah awal untuk menekan biaya operasional yang bisa terlihat adalah dengan pemilihan teknologi bus, dan mendatangkan bus-bus baru yang dari sisi perawatan masih rendah biayanya.

Seperti dikutip dari republika.co.id, Jumat (7/11/14), Kosasih menyebutkan saat ini bus yang tersedia ada 793 unit. Dari jumlah itu, tercatat 118 bus single berbahan bakar solar, 417 bus single berbahan bakar CNG dan 258 bus gandeng berbahan bakar CNG. Namun hanya 430 bus yang siap beroperasi.

Kosasih menargetkan bus yang siap operasi mencapai 712 unit atau 90 persen dari 793 unit bus yang tersedia. Dia juga menargetkan kecepatan 20-25 kilometer per jam, naik dari 18-25 kilometer per jam yang ada saat ini. Target jarak waktu antara bus yang sekarang masih 5-20 menit juga diperpendek menjadi 3-10 menit. Karena itu, dia berjanji akan melakukan koordinasi dengan semua pemangku kepentingan untuk mencapai target operasional di lapangan.

Upaya Kosasih tidaklah ringan, dalam tiga tahun terakhir subsidi Pemprov DKI Jakarta untuk operasional bus Transjakarta naik. Pada 2012, bus Transjakarta disubsidi sekitar Rp. 253 miliar, tahun 2013, sebesar Rp. 468 miliar dan melonjak pada 2014 sebesar Rp. 830 miliar.

Namun, modal awal PT. Transjakarta berupa aset juga terbilang besar, Rp. 1,19 triliun. Aset-aset berupa tujuh depo, kantor, 218 halte bus dan sejumlah jembatan penyeberangan terintegrasi dengan shelter bus bisa dimanfaatkan sebagai ruang iklan.(naskah : mai/foto : dok. haltebus.com)

Banner Content